Tuesday, July 15, 2008

Faktor dan Gejala Menopause

Faktor-faktor yang mempengaruhi menopause
Banyak faktor yang mempengaruhi menopause antara lain :
Usia pertama haid
Diabetes militus
Perokok berat dan minum alkohol
Kurang gizi
Wanita vegetarian
Sosial ekonomi. (Ali Baziad, 2003)

Gejala-gejala menopause
Akibat perubahan organ reproduksi maupun hormon tubuh pada saat menopause mempengaruhi berbagai keadaan fisik wanita. Keadaan ini berupa keluhan-keluhan ketidaknyamanan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
Hot Flushes
Adalah rasa panas yang luar biasa pada wajah dan tubuh bagian atas, hal ini terjadi karena jaringan-jaringan yang sensitif atau yang bergantung pada estrogen akan terpengaruh sewaktu kadar estrogen menurun dan merupakan akibat dari pengaruh hormon pada bagian otak yang bertanggung jawab untuk mengatur temperatur tubuh.
Keringat Berlebihan


Gangguan miksi


Tidak dapat menahan air kencing, sering kencing, retensi urine, kencing tidak lancar.

Penambahan berat badan


Gangguan tidur di malam hari (insomnia): bisa berkaitan dengan hot flushes (yang membuat tidur menjadi tidak nyaman) atau karena sebab lain. (Anonim, 2006)

Gangguan pada mata
Berkurangnya atau hilangnya estrogen mempengaruhi produksi kelenjar air mata sehingga mata kering dan gatal.



Nyeri tulang dan sendi
Seiring meningkatnya usia maka beberapa organ tidak mengadakan remodeling contoh tulang, bahkan tulang akan mengalami proses penurunan karena pengaruh dari perubahan organ lain.
Keputihan
Wanita merasa terganggu dengan adanya gatal, panas, berbau, berganti celana berkali-kali dalam sehari, atau ada rasa nyeri. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan yang seksama dan penanganan yang tepat.

Penyakit jantung dan pembuluh darah
Penurunan kadar estrogen menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol LDL ( kolesterol jahat) dan menurunnya kadar kolestrol HDL (kolestrol baik). Estrogen bertanggung jawab terhadap pembentukan lapisan epitel pada rongga rahim. Selama masa reproduktif, pembentukan lapisan rahim diikuti dengan pelepasan dinding rahim pada setiap siklus menstruasi. Berkurangnya kadar estrogen pada menopause menyebabkan tidak terjadinya pembentukan lapisan epitel pada rongga rahim. (Anonim, 2004)

Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan pap smear bisa diketahui adanya perubahan pada lapisan vagina akibat perubahan kadar estrogen. Pemeriksaan darah dan air kemih bisa digunakan untuk mengukur kadar estrogen, progestero serta estron dan estradiol plasma. (Anonim, 2004)

Pengobatan
Tidak semua wanita pasca menopuse perlu menjalani Terapi Sulih Hormon (TSH). Setiap wanita seharusnya mendiskusikan resiko dan keuntungan yang diperoleh dari TSH dengan dokter pribadinya. Banyak ahli yang menganjurkan TSH dengan tujuan untuk :
a) Mengurangi gejala menopause yang tidak diinginkan.
b) Membantu mengurangi kekeringan pada vagina.
c) Mencegah terjadinya osteoporosis.
Estrogen tersedia dalam bentuk alami dan sintesis (dibuat di laboraturium). Estrogen sintesis ratusan kali lebih kuat dibanding estrogen alami, sehingga tidak secara rutin diberikan kepada wanita menopause. Untuk mencegah hot flushes dan osteoporosis hanya diperlukan estrogen alami dalam dosis yang rendah. Dosis tinggi cenderung menimbulkan masalah, diantaranya sakit kepala migren. Krim estrogen bisa dioleskan pada vagina (sehingga mengurangi resiko terjadinya infeksi saluran kemih dan beser). Dan untuk mengurangi nyeri pada ketika melakukan hubungan seksual.
Biasanya terapi sulih hormon tidak diberikan kepada wanita yang menderita:
Atau pernah menderita kanker payudara atau kanker endometrium stadium lanjut
Pendarahan kelamin dengan penyebab yang tidak pasti.

Penyakit hati akut

Penyakit pembekuan darah

Porfiria intermiten akut
Kepada wanita tersebut biasanya diberikan obat anti cemas, progesteron, atau klonidin untuk mengurangi hot flushes. Untuk mengurangi depresi, kecemasan mudah tersinggung dan susah tidur bisa diberikan anti-depresi. (Anonim,2004)

No comments: